Perjumpaan Nabi Khidir dengan 3 ulama Indonesia :

  • Uploaded on 2 Des 2018

    1-Pada suatu hari, Syaikhona Kholil kedatangan tamu istimewa. Tamunya orang tua yang sudah lumpuh dan kesusahan menuju kediaman Syaikhona Kholil. Saat itu, Hujan turun sangat deras di lingkungan pesantren, tapi orang tua itu begitu bersemangat ingin bertamu kepada Syaikhona Kholil.
    “Wahai para santri, adakah diantara kalian yang mau menggendong tamuku di luar sana itu?” tanya Syaikhona Kholil kepada para santrinya.
    “Saya siap, kiai,” tegas Hasyim muda dengan penuh semangat. Hasyim muda tak memedulikan sedikitpun hujan deras yang ada. Hanya ta’at kepada kiai yang selalu terbenak dalam dirinya.
    Hasyim muda menggendong tamunya ini dengan penuh semangat dan ketulusan. Wajah Hasyim muda sangat ceria dan gembira karena bisa menggendong tamu sang kiai, sekaligus memberikan kebahagiaan kepada kiai yang sangat dihormatinya.
    Dengan sangat akrab, Syaikhona Kholil menyambut tamunya ini. Keduanya kemudian masuk ruang tamu khusus dan berdialog empat mata. Para santri tidak berani “menguping” dialog antara Syaikhona Kholil dan tamunya. Hanya penasaran yang meliputi hati para santri terhadap tamu yang susah payah datang di tengah guyuran hujan yang sangat deras itu.
    Tidak lama, kemudian tamu ini hendak mau pulang. Syaikhona Kholil kembali memanggil para santri untuk membantu tamu istimewa yang sudah tak mampu berjalan itu.
    “Siapa para santri yang siap membantu pulang orang tua ini?,” tegas Syaikhona Kholil.
    “Saya selalu siap, kiai,” jawab Hasyim muda yang selalu terdepan dan pertama dalam menjawab perintah gurunya. Hasyim begitu bahagia bisa kembali melayani tamu gurunya. Tamu itu diantarkan sampai keluar pesantren dengan kehati-hatian, sesuai yang diperintahkan sang kiai. Kemudian Hasyim kembali ke pesantren dan melaporkan tugasnya selesai.
    “Santri-santriku, saksikanlah bahwa ilmuku telah dibawa santri itu,” tegas Syaikhona Kholil sambil menunjuk kepada sosok Hasyim muda yang luar biasa itu.
    Syaikhona Kholil kemudian menjelaskan bahwa tamu orang tua yang baru saja datang adalah Nabi Khidir. Para santri tidak menyangka, dan Hasyim muda mendapatkan kesempatan luar biasa karena melayani seorang kekasih Allah.
    Itulah Syaikhona Kholil dalam mendidik santri-santrinya, khususnya yang bernama Hasyim Asy’ari. Inilah santri yang kelak bergelar Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yang pada tahun 1899 mendirikan Pesantren Tebuireng Jombang dan pada tahun 1926 mendirikan organisasi bernama Nahdlatul Ulama (NU).

    2-Kiaie Hamid Pasuruan, Suatu  ketika  Mbah Kyai Hamid  Pasuruan  berkata  bahwa  Nabi  Khidir  akan  datang  di kediaman beliau  besok  pagi  hingga  waktu  dzuhur.  Pada  saat itu  kebetulan  Mbah Yunus sedang  berada  disitu.  Keesokan  harinya  orang-orang  pada  datang  kesitu  ingin  bertemu 
    Nabi Khidir,  bahkan  menurut  Mbah Yunus  ada  beberapa  Habib  dengan  berpakaian  jubah lengkap  dengan  surbannya  juga  hadir  disitu  ingin  bertemu  Nabi Khidir.
    Ketika  orang-orang  berkumpul  disitu,  tiba-tiba  Mbah Yunus  dipanggil  oleh  Mbah Kyai Hamid  dan  diminta  agar  mendekat  beliau,  beberapa  saat  setelah  itu  datanglah  seorang  pemuda  dengan  berpakaian  nyentrik  yang  sedang  ngetren  saat  itu.  Orang-orang  yang  hadir  disitu  tidak  memperdulikan  pemuda  tersebut,  karena  semua  tamu  yang  hadir  berpakaian  ala  islami.
    Ketika  bertemu  Mbah  Kyai  Hamid,  pemuda  itu  langsung  bersalaman  dengan  Mbah  Kyai Hamid  dan  ingin  mencium  tangannya,  namun  Mbah  Kyai  Hamid  menolak  untuk dicium tangannya  dan  justru  Mbah  Kyai  Hamid  ingin  mencium  tangan  pemuda  itu,  tapi ditolak juga  oleh  pemuda  itu, kejadian  itu  terjadi  didepan  Mbah  Yunus.  Dalam  benak Mbah Yunus  terbesit  bahwa  Mbah  Yunus   sering  bertemu  dengan  orang  yang  bermodel wajah seperti  ini  namun  usianya  sudah  tua.
    Setelah  itu  Mbah  Yunus  diberitahu  oleh  Mbah  Kyai  Hamid  bahwa  orang  inilah  yang bernama  Nabi  Khidir.  Mbah  Yunus  baru  mengetahui  bahwa  orang  yang  sudah  tua  yang sering  menemuinya  sejak  kecil  itu  adalah  Nabi  Khidir.
    Kemudian  pemuda  itu  berganti  pakaian  dengan  pakaian  yang  sudah  kotor,  selanjutnya membersihkan  selokan  disekitar  kediaman  Mbah  Kyai  Hamid  sampai  waktu  dzuhur.
    Seusai  shalat  dzuhur,  salah  seorang  yang  hadir  disitu  bertanya  kepada  Mbah  Kyai Hamid  kapan  Nabi  Khidir  akan  datang.  Dan  Mbah  Kyai  Hamid  menjawab  bahwa  orang yang  membersihkan  selokan  tadi  adalah  Nabi Khidir.

    3- Habib Sholeh Bin Muhsin Al Hamid, adalah seorang wali qhutub yang lebih dikenal dengan nama Habib Sholeh Tanggul, Jember.   Habib Sholeh berasal dari Hadramaut Yaman pertama kali melakukan dakwahnya ke Indonesia sekitar tahun 1921 M dan menetap di daerah tanggul Jember Jawa timur.
    Mengisah

    Channel MAHMUD ZAIN

Download Links

TAGS:

Youtube . Hatena . Webry . bd . Tripod . Addto . So-net . Gamer . Google+ . images . ucz . hawaii . nla . dot . bts . ed . dhs . weather